Sabtu , 19 September 2020

Tugiran Mantan Teroris Poso Kini Jualan BBM

PALU,Rajawalipost.Com – Empat belas tahun mendekam di penjara menjadi titik balik bagi Tugiran alias Iran untuk menyadari kesalahannya menjadi seorang teroris.

Selama belasan tahun, Tugiran mengikuti ajaran radikal dan kelompok yang menyebarkan paham radikalisme di Kabupaten Poso.

Tugiran ditangkap oleh aparat penegak hukum pada Januari 2007, saat operasi penegakkan hukum di Kabupaten Poso. Iran ditangkap karena terlibat dalam kasus tindak pidana kekerasan di Kabupaten Poso. Namun alhamdulillah, setelah menjalani masa tahanan, dan mendapatkan remisi, pada tahun 2017 lalu, Iran dibebaskan secara bersyarat.
” Belasan tahun saya evaluasi kembali tindakan saya, maka di penjaralah tempat saya untuk itikaf,” ujar Tugiran kepada
Kasubdit IV Dit Intelkam Polda Sulteng
Kompol Safruddin.

Menurut pengakuan Tugiran, saat ini dirinya telah kembali ke lingkungan masyarakat. Bahkan untuk menjalani hidup dan kehidupannya bersama anak istrinya sehari -hari, ia jualan bahan bakar minyak (BBM).

Tugiran bersama sebagian besar para simpatisan eks napi kasus terorisme yang saat ini telah selesai menjalani hukuman, kembali melakukan aktifitas seperti biasanya untuk menghidupi keluarganya masing-masing. Meski demikian tetap juga mengikuti kajian-kajian melalui kegiatan ta’lim dan pengajian rutin.

Ditambahkan Tugiran, pemahaman maupun idiologi yang keras hingga menuju ke arah radikalisme bisa menjadi dasar seseorang melakukan aksi terorisme. Olehnya untuk mencegah hal itu, pemerintah perlu melakukan pendekatan dan pengawasan sejak dini melalui pengawasan pengajar dari tingkat SD sampai Universitas.

“Semua pihak terkait harus melakukan program pencegahan penyebaran paham idiologi keras yang bisa mengarah ke tindakan radikalisme, melalui pendidikan sejak dini harus menjadi sarana pencehan agar tidak tertanam benih-benih radikalisme kepada anak-anak,” kata mantan napi teroris ini.

Salah satu program yang harus dilakukan tambahnya, aparat keamanan perlu melakukan pendekatan dengan cara silahturahmi secara rutin, guna menjalin hubungan emosional yang lebih baik dengan para eks napi kasus terorisme.

“Dengan adanya silaturahmi, para eks napi terorisme, tidak mudah kembali terpengaruh dengan paham dan idiologi yang keras yang menjurus ke aksi terorisme,” katanya.

Ia pun menghimbau agar masyarakat khususnya generasi muda, tidak mudah terpengaruh dengan paham-paham radikalisme.

Namun demikian Iran juga menekankan agar masyarakat jangan menilai seseorang dari penampilannya. Karena menurutnya, banyak kelompok yang dituduh radikal berdasar penampilan, padahal sebenarnya mereka adalah kelompok yang mendukung NKRI.

“Indikasi radikalisme hanya dapat dilihat dari pemikiran dan gagasan yang diusung. Bukan penampilan,” pungkasnya. (Revol / Agus.M)

About rajawalipost

Check Also

Rugikan Negara 14,5 Milyar,Kejati Sulteng Tetapkan 3 Tersangka,Ini Namanya!

PALU,Rajawalipost.com – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan 3 orang sebagai tersangka dalam kasus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *