*”Hati kepada Allah, Tangan Terulur kepada Manusia” — Koordinator Kesehatan Paskah Nasional V Bicara Soal Pelayanan Kemanusiaan yang Tidak Pilih Agama*

BERITA0 Dilihat

PALU, SULTENG — RAJAWALIPOST//Di tengah kesibukan hari kedua operasi katarak gratis, ada satu sosok yang bergerak tanpa banyak bicara, memastikan setiap pasien terlayani, setiap jadwal berjalan, setiap kebutuhan medis tersedia. Mayor (BK) Melthy Adilang Karajinta, Koordinator Seksi Kesehatan Panitia Paskah Nasional V dari Bala Keselamatan, meluangkan waktu sejenak untuk berbicara kepada wartawan di sela kesibukannya di Klinik SMEC Palu, Kamis(23/04/2026).

Yang ia sampaikan singkat. Tapi cukup untuk menggambarkan siapa Bala Keselamatan sesungguhnya, dan mengapa organisasi ini hadir bukan hanya di perayaan, melainkan di setiap tempat di mana ada orang yang membutuhkan pertolongan.

*Kerja Sama Perdana dengan SMEC*

Melthy membuka dengan fakta yang mungkin luput dari perhatian banyak orang: kerja sama antara Bala Keselamatan dengan Klinik Mata SMEC dalam kegiatan bakti sosial ini adalah yang pertama kali terjadi. Tidak ada preseden sebelumnya. Ini adalah pertemuan dua institusi yang berbagi satu prinsip, bahwa pelayanan kesehatan adalah hak semua orang, dan memutuskan untuk mewujudkannya bersama dalam momentum Paskah Nasional V.

Bagi Melthy, momen perdana itu justru menjadi salah satu hal yang paling ia syukuri dari seluruh rangkaian kegiatan ini.

*Bukan Hanya Katarak*

Wartawan menanyakan apakah bakti sosial kesehatan dalam Paskah Nasional V ini terbatas pada operasi katarak saja.

Melthy menjelaskan bahwa ruang lingkupnya lebih luas. Selain operasi katarak yang berlangsung di Klinik Mata SMEC, panitia juga menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan umum sekaligus pemeriksaan laboratorium sederhana, mencakup pemeriksaan gula darah dan asam urat. Seluruh kegiatan tambahan itu dipusatkan di Gereja Bala Keselamatan Korps Woodward, tepat di depan Rumah Sakit Bala Keselamatan Woodward, Palu.

Dengan kata lain, warga yang datang tidak hanya pulang dengan penglihatan yang lebih baik, mereka juga pulang dengan gambaran kondisi kesehatan mereka secara umum, tanpa biaya.

*Motif di Balik Semua Ini*

Wartawan kemudian menggali lebih dalam: apa yang sesungguhnya menggerakkan Bala Keselamatan untuk terus hadir dalam pelayanan seperti ini, jauh melampaui batas-batas perayaan keagamaan internal?

Melthy menjawab dengan kalimat yang ia sebut sebagai moto khusus Bala Keselamatan, sebuah prinsip yang sudah lama tertanam dan terus dihidupi dalam setiap langkah pelayanan mereka.

“Hati kepada Allah dan tangan terulur kepada manusia,” ujarnya.

Kalimat itu pendek. Tapi ia menjelaskan segalanya.

Bagi Melthy, panggilan untuk melayani tidak pernah dibatasi oleh identitas agama penerima layanan. Siapa saja yang membutuhkan uluran tangan, itulah yang menjadi sasaran pelayanan. Paskah Nasional V hanyalah salah satu momentum di mana prinsip itu diwujudkan dalam skala yang lebih besar dari biasanya.

“Kami sangat senang dengan kegiatan ini karena kita bisa menjangkau lebih banyak orang, sehingga bermanfaat bagi masyarakat, sehingga mereka pun boleh bersyukur kepada Tuhan untuk apa yang mereka terima lewat kegiatan ini,” katanya.

*Ajakan Donor Darah: Tidak Tahu Siapa Penerimanya — dan Itu Justru Intinya*

Menjelang akhir wawancara, wartawan menyinggung kegiatan donor darah yang juga menjadi bagian dari rangkaian Paskah Nasional V, mengingat kebutuhan darah di fasilitas kesehatan nyaris tidak pernah tercukupi.

Melthy langsung mengajak. Ia meminta seluruh warga Sulawesi Tengah, khususnya di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, yang dalam kondisi sehat untuk datang ke Gereja Bala Keselamatan Korps Woodward dan ikut mendonorkan darah.

Tapi yang paling menarik dari ajakannya bukan soal lokasi atau jadwal. Melainkan satu kalimat yang ia sampaikan dengan tenang namun penuh makna: bahwa setiap pendonor tidak akan pernah tahu kepada siapa darahnya akan diberikan. Dan justru di situlah letak keindahannya.

“Siapapun mereka, kita tidak tahu darah yang akan kita donorkan itu diberikan kepada siapa. Tetapi tentu kita akan memberikannya kepada sesama manusia yang membutuhkan,” ujarnya.

Tidak ada seleksi agama. Tidak ada pilih-pilih penerima. Hanya darah yang mengalir dari satu manusia ke manusia lain, karena memang begitulah seharusnya kepedulian bekerja.Rif,fotografer-RR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *