Sulteng Panen Jagung 563 Ton, Presiden Targetkan Indonesia Tak Lagi Impor 2026

BERITA, DONGGALA0 Dilihat

RajawaliPost, Donggala – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Renny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes, mewakili Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, menghadiri Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II secara virtual via Zoom dari Desa Labuan Panimba, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, pada Kamis (5/6).

Kegiatan ini juga diikuti secara daring oleh Presiden RI serta jajaran Forkopimda Sulawesi Tengah, di antaranya Kapolda Sulteng Irjen Pol. Dr. Agus Nugroho, S.IK., S.H., M.H., Danrem 132/Tadulako Brigjen TNI Deni Gunawan, S.E., dan Kabinda Sulteng Brigjen TNI Bobby Prabowo, serta Bupati Donggala Vera Elena Laruni.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Donggala, panen raya ini mencakup program Perluasan Areal Tanam (PAT) seluas 54,3 hektare, dengan varietas jagung hibrida sebagai komoditas utama.

Adapun data kesiapan panen dari Polda Sulteng untuk kuartal II adalah sebagai berikut:

  • Polda Sulteng: 30 Ha (estimasi panen 120 ton)
  • Polresta Palu: 0,5 Ha (2 ton)
  • Polres Sigi: 59 Ha (118 ton)
  • Polres Donggala: 1,3 Ha (3 ton)
  • Polres Parigi Moutong: 25,25 Ha (123 ton)
  • Polres Poso: 35,7 Ha (90 ton)
  • Polres Toli-Toli: 1 Ha (1 ton)
  • Polres Buol: 1,6 Ha (8 ton)
  • Polres Morowali Utara: 2 Ha (5 ton)
  • Polres Morowali: 1,5 Ha (1,3 ton)
  • Polres Tojo Una-Una: 18 Ha (80 ton)
  • Polres Banggai: 5 Ha (10 ton)
  • Polres Banggai Kepulauan: 8 Ha (2 ton)

Total lahan panen: 188,85 hektare dengan estimasi hasil 563,3 ton jagung pipilan kering.

Dalam kegiatan yang digelar serentak ini, Polri bersama Pemerintah Republik Indonesia menegaskan komitmen mendukung program ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

Kapolri dalam laporannya menyampaikan bahwa keterlibatan Polri dalam pengelolaan ekosistem pertanian jagung memberikan dampak signifikan.
Melalui penggunaan bibit unggul dan pupuk yang tepat, produksi jagung yang sebelumnya hanya 4 ton per hektare kini meningkat menjadi 9 hingga 14 ton per hektare.

Polri juga memberikan perlindungan kepada petani dari praktik tengkulak yang merugikan, serta mendistribusikan peralatan pertanian modern seperti:

  • 500 unit alat uji kesuburan tanah
  • 100 unit alat pengering
  • Alat pengukur kadar air jagung

Distribusi alat ini mencakup lima provinsi: Kalimantan Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTB, dan Bengkulu.
Polri juga merencanakan pembangunan 18 gudang penyimpanan jagung di 12 provinsi dengan kapasitas total 18.000 ton.

Presiden RI Prabowo Subianto, yang juga meresmikan kegiatan ini, menyatakan kebanggaannya atas peran aktif Polri dalam sektor pertanian.

“Kita tidak bisa menjadi bangsa yang benar-benar merdeka jika tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini adalah perjuangan yang sangat strategis,” tegas Presiden.

Beliau juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, TNI-Polri, dan masyarakat, dan optimistis bahwa pada 2026 Indonesia tidak perlu lagi mengimpor jagung, bahkan berpotensi menjadi negara pengekspor dan lumbung pangan dunia.

Presiden juga mengumumkan ekspor perdana 1.200 ton jagung ke Malaysia dengan harga Rp5.900/kg. Dua provinsi lain, Gorontalo dan NTB, juga akan mengekspor masing-masing 27.000 ton dan 20.000 ton.

Di akhir sambutannya, Presiden menegaskan bahwa perjuangan pangan adalah perjuangan untuk keselamatan bangsa.

“Tujuan kita adalah keselamatan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Jika itu tercapai, Indonesia akan berdiri kuat dan terhormat di mata dunia,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *